SudutMakassar.id, MAKASSAR — Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia atau KEPMI Bone sukses melaksanakan Kongres XXI dengan mengusung tema “Revitalisasi KEPMI Bone: Sinergi dan Integritas Menuju Lembaga yang Progresif dan Berdaya Saing.”
Kongres yang berlangsung di Kota Makassar tersebut menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi sebagai ruang berhimpun, kaderisasi, dan perjuangan intelektual bagi pelajar serta mahasiswa asal Bone di berbagai daerah.
Forum Kongres XXI tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang evaluasi, konsolidasi, serta refleksi terhadap arah gerak organisasi di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
Rangkaian kegiatan berlangsung dinamis dan penuh antusiasme kader. Kegiatan dimulai dari seremoni pembukaan di AAS Building, kemudian dilanjutkan dengan forum persidangan di Gedung Guru Jusuf Kalla dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, hingga penutupan di Gedung LPTQ Sulawesi Selatan.
Perjalanan panjang forum tersebut menunjukkan tingginya perhatian kader terhadap masa depan organisasi serta kuatnya semangat dalam menjaga eksistensi KEPMI Bone sebagai organisasi pengaderan mahasiswa daerah.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Dr. Andi Ilham Samanlangi selaku demisioner Ketua Umum DPP KEPMI Bone, perwakilan Pemerintah Kabupaten Bone, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, serta Direktorat Jenderal Hortikultura yang hadir mewakili Menteri Pertanian Republik Indonesia untuk membuka kegiatan secara resmi.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi penanda bahwa KEPMI Bone masih memiliki posisi strategis sebagai wadah berhimpun mahasiswa Bone sekaligus mitra kritis dalam pembangunan sumber daya manusia daerah.
Dalam forum kongres, kader membahas berbagai isu strategis organisasi mulai dari penguatan kaderisasi, pengembangan lembaga otonom, penguatan hubungan antar komisariat dan cabang, hingga peran KEPMI Bone dalam menjawab persoalan sosial dan pendidikan.
Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, kongres juga memperlihatkan kuatnya semangat kekeluargaan yang selama ini menjadi identitas organisasi. Dinamika persidangan yang berlangsung selama forum menjadi cerminan bahwa perbedaan pandangan tetap dibingkai dalam semangat persaudaraan dan nilai kebersamaan.
Melalui proses persidangan Kongres XXI, Muh. Khaidir Mu’tashim resmi ditetapkan sebagai Formatur Ketua Umum DPP KEPMI Bone periode 2026–2028.
Terpilihnya kepemimpinan baru diharapkan mampu membawa semangat baru dalam membangun organisasi yang lebih adaptif, progresif, dan terintegrasi.
“Kongres ini menjadi momentum penting untuk memperkuat soliditas kader dan mempertegas arah perjuangan organisasi agar tetap relevan dengan tantangan zaman,” ujar salah satu peserta forum kongres.
Di kalangan kader, istilah “DIGITAL” juga mulai menjadi perhatian dalam ruang diskusi organisasi. Akronim dari Disiplin, Giat, dan Total tersebut dinilai menjadi semangat baru dalam membangun karakter kader yang aktif, konsisten, serta bertanggung jawab terhadap organisasi dan daerah.
Penguatan hubungan antara DPP, DPK, dan DPC juga menjadi perhatian pascakongres. Sejumlah kader berharap kepengurusan mendatang mampu menghadirkan pola komunikasi yang lebih terintegrasi agar gerak organisasi di setiap tingkatan berjalan harmonis, kolektif, dan efektif.
Di sisi lain, identitas budaya Bugis Bone tetap dipandang sebagai fondasi moral organisasi. Nilai-nilai seperti getteng, lempu, ada tongeng, dan temmappasilaingeng dinilai relevan sebagai pegangan kader dalam menghadapi tantangan zaman sekaligus menjaga marwah organisasi di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Kongres XXI juga menjadi pengingat bahwa KEPMI Bone bukan sekadar organisasi seremonial, melainkan ruang pembentukan karakter, pengabdian, dan lahirnya gagasan-gagasan kritis mahasiswa Bone.
Harapan besar pun tertuju agar KEPMI Bone terus melahirkan kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, kepekaan sosial, dan komitmen terhadap pembangunan daerah.
Dengan berakhirnya Kongres XXI, KEPMI Bone kini resmi memasuki babak baru kepemimpinan organisasi. Tantangan ke depan dinilai tidak ringan, namun semangat kaderisasi, solidaritas, dan nilai kekeluargaan diharapkan tetap menjadi fondasi utama dalam membawa organisasi menuju arah yang lebih progresif dan berdaya saing.












