SudutMakassar.id, MAKASSAR — Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham mencatatkan sejumlah capaian positif. Pertumbuhan ekonomi Kota Makassar berada di atas 5 persen, tingkat pengangguran menurun, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menembus angka 85,66 atau di atas rata-rata nasional.
Namun, di balik data makro tersebut, dinamika sosial masyarakat tetap menjadi perhatian serius. Akademisi Sosiologi Universitas Hasanuddin, Dr. Sawedi Muhammad S.Sos., M.Sc., menilai pembangunan kota tidak bisa hanya diukur dari angka statistik.
Dalam paparannya di Lapangan Karebosi Makassar, Jumat (20/2/2026), Sawedi menegaskan bahwa kota adalah ruang hidup (living space) yang sarat interaksi sosial, emosi, dan aspirasi warga.
“Refleksi satu tahun ini bukan sekadar evaluasi angka, tetapi ajakan memahami Makassar secara menyeluruh. Pertumbuhan ekonomi dan inovasi digital harus menghadirkan kota yang unggul, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Angka Positif, Tantangan Sosial Tetap Ada
Menurut Sawedi, capaian satu tahun pemerintahan Munafri–Aliyah memang menunjukkan tren menggembirakan. Penurunan angka pengangguran dan peningkatan IPM menjadi indikator penting keberhasilan awal pemerintahan.

Meski demikian, ia menyoroti aspek pemerataan pembangunan yang tercermin dalam rasio ketimpangan (Gini ratio). Angka pertumbuhan ekonomi, kata dia, belum sepenuhnya mencerminkan distribusi kesejahteraan yang merata.
Beberapa wilayah di Makassar, seperti kawasan Tallo dan wilayah utara kota, masih menghadapi persoalan permukiman kumuh dan keterbatasan akses infrastruktur dasar.
“Dalam perspektif sosiologi, kota bukan panggung monolog. Kota adalah arena kontestasi banyak aktor yang memperebutkan akses dan sumber daya,” jelasnya.
Generasi Muda dan Ruang Publik Jadi Sorotan
Sawedi juga menaruh perhatian pada dinamika generasi muda yang dinilai rentan terhadap konflik sosial dan kekerasan kelompok. Berdasarkan data aparat penegak hukum, ribuan kasus kriminalitas ditangani sepanjang tahun terakhir.
Ia mendorong riset perilaku generasi muda untuk mengidentifikasi faktor pemicu konflik agar dapat diarahkan pada aktivitas produktif dan kreatif.
Selain itu, perbaikan ruang publik seperti pembangunan trotoar yang lebih manusiawi dinilai sebagai langkah positif. Dialog antara pemerintah dan warga dalam penataan kota menjadi contoh pergeseran paradigma dari government ke governance, yakni pemerintahan kolaboratif berbasis partisipasi publik.
Rekomendasi: Kolaborasi dan Keberlanjutan
Sawedi menyampaikan beberapa rekomendasi strategis untuk memperkuat pembangunan Makassar ke depan, antara lain:
- Penguatan ekonomi sektor informal agar pertumbuhan lebih inklusif.
- Pengurangan kemacetan secara sistematis guna menekan kerugian ekonomi dan sosial.
- Penanganan banjir berbasis task force yang dilengkapi program jangka panjang.
- Penguatan riset sosial untuk mendukung kebijakan berbasis data.
Ia menekankan, istilah “unggul” tidak hanya bermakna pencapaian prestasi, tetapi memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pembangunan.
“Angka-angka ini menjadi pemicu untuk terus berinovasi, sekaligus pengingat agar pembangunan tetap berpihak pada masyarakat,” tutupnya.












