Saharuddin Anhar, Petinju Legendaris Raja Kelas Berat Era 90-an Asal Makassar Meninggal Dunia

Peraih Emas PON 2000 dan Juara Sarung Tinju Emas Tutup Usia di Makassar

SudutMakassar.id, MAKASSAR – Petinju legendaris Sulawesi Selatan asal Kota Makassar yang pada masanya dikenal sebagai “Raja Kelas Berat”, Saharuddin Anhar, meninggal dunia karena sakit.

Peraih medali emas PON XV Jawa Timur 2000 ini meninggal dunia pada Selasa, 20 Januari 2026, pagi di rumah kontrakannya yang sangat sederhana di Kompleks Kodam Lama Lorong 15, Borong, Kelurahan Bitowa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Almarhum dikebumikan pada hari yang sama usai salat Asar.

Di era 1990-an hingga awal 2000-an, Saharuddin Anhar dikenal luas sebagai raja kelas berat tinju amatir Indonesia. Sebelum wafat, ayah enam anak ini tengah berjuang melawan komplikasi penyakit gula darah dan ginjal yang dideritanya sejak lima tahun terakhir.

Dudding, begitu ia kerap disapa, bertahan hidup hingga usia 55 tahun. Selama ini, ia menghabiskan hari-harinya di rumah kontrakan yang sangat sederhana bersama enam orang anaknya.

Semasa menjadi atlet, Dudding mengukir sejumlah prestasi gemilang. Di antaranya meraih medali emas kelas berat Pekan Olahraga Nasional (PON) XV Tahun 2000 di Surabaya. Ia juga mencatat prestasi internasional sebagai juara Sarung Tinju Emas (STE) tahun 2000 dan 2001, serta pernah mewakili Indonesia pada ajang SEA Games dan Asian Games.

Kondisi Dudding dalam lima tahun terakhir sungguh memprihatinkan. Ia tak lagi mampu bekerja. Untuk berjalan bahkan berdiri, ia harus dibantu dan dipapah oleh anak-anaknya.

Sementara untuk menghidupi keluarga, peran tersebut terpaksa digantikan oleh Suriyati, sang istri, yang harus bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketua Umum Pengurus Pusat PERTINA periode 2012–2016, A. Reza Ali, menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian almarhum.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhum ditempatkan di tempat yang layak di sisi Allah SWT,” kata Reza Ali.

Mantan anggota DPR RI ini mengenang masa kejayaan Dudding di era 1990-an.

“Di masanya, almarhum adalah petinju yang sangat disegani di kelas berat. Ia dijuluki raja kelas berat. Di luar ring, ia dikenal sebagai pekerja keras demi menghidupi keluarganya,” ungkap Reza Ali.

Sementara itu, Ketua Pengprov PERTINA Sulsel, Harpen Reza Ali, mengaku terkejut menerima kabar duka tersebut. Ia turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya legenda tinju Sulawesi Selatan yang pernah mengharumkan nama daerah dan Indonesia di kancah tinju amatir internasional, khususnya pada era 1990-an.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Turut berduka cita atas meninggalnya petinju legendaris Sulsel. Semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi-Nya,” kata Harpen Ali. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *